terapi akupunktur untuk TBC sebagai pengobatan alternatif efektif yang aman dan alami untuk membantu mengatasi gejala dan mempercepat penyembuhan
akupunktur untuk TBC – Saya tahu betul berapa seriusnya Tubercolosis (TBC) di negara kita, Indonesia. Negara kita adalah peringkat ketiga di dunia untuk kasus TBC, dengan 845.000 kasus baru setiap tahun pada 20181. Jumlah kematian akibat TBC mencapai 98.000 kasus tiap tahun1. Karena angka ini yang tinggi, Kementerian Kesehatan memfokuskan upayanya pada pengendalian TBC.
TBC adalah infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang mudah menular. Biasanya, ini menyerang paru, tapi juga bisa kulit, usus, tulang, dan jaringan lain. Gejala TBC antara lain demam, batuk berdarah, sesak napas, tidak ingin makan, dan penurunan berat badan. Tanpa pengobatan, TBC bisa berujung pada komplikasi serius2.
Akupunktur medik adalah teknik akupunktur yang diperkaya oleh ilmu medik. Ini melibatkan jarum dan juga alat lain, termasuk yang menggunakan panas, listrik, laser, suara, hingga menanam benang.
Akupunktur medik meningkat popularitasnya sejak ilmu biologi seluler berkembang pada tahun 1980-an.2 Organisasi Kesehatan Dunia mengakui akupunktur sebagai metode terapi untuk sejumlah penyakit.2 Proses akupunktur berlangsung selama 20 hingga 30 menit.2
Akupunktur merangsang sistem saraf, hormon, dan kekebalan tubuh. Ini mengutamakan proses neurotransmitter dan sitokin.2 Pengaruhnya ada pada tingkat lokal, regional, dan bahkan global di otak.2
Akupunktur membantu dalam kasus nyeri kanker, masalah saraf, dan untuk merencanakan kehamilan.2 Banyak penyakit yang bisa diatasi, seperti efek radioterapi, alergi, dan depresi, menggunakan akupunktur.2 Ini bisa menambah efektivitas pengobatan konvensional terhadap TBC.
Akupunktur dianggap cukup aman oleh banyak orang, terutama jika dilakukan oleh dokter terlatih.2 Meski demikian, ada risiko seperti infeksi dan cedera yang harus diperhatikan.2 Penting untuk berkonsultasi dulu dengan dokter sebelum mencoba akupunktur, agar tindakannya sesuai dengan kondisi kesehatan kita.2
Indonesia adalah yang ketiga di dunia dengan kasus TBC terbanyak. Pada 2018, negara ini melaporkan 845.000 kasus TBC dengan 98.000 kematian setiap tahun.1 Data ini menandakan dampak besar terhadap kesehatan warga. Antara lain, produktivitas menurun dan beban ekonomi naik. Risiko penularan juga tinggi, khususnya pada kelompok rentan.
Pengendalian tuberkulosis adalah prioritas utama pelayanan kesehatan Indonesia. Ini termasuk dalam program Kementerian Kesehatan.
Pada 2018, sekitar 842.000 orang didiagnosis dengan TBC di Indonesia. Ada 107.000 kasus kematian.3 Tiga perempat pasien berada di usia produktif, 15-50 tahun.
Di Sumatera Utara, pada 2016 tercatat 23.097 kasus TBC. Dari angka itu, 5.714 orang meninggal dunia.3 Tahun setelahnya, angka CNR untuk TBC paru baru di sana adalah 104,3 kasus per 100.000 penduduk.3
Penyebaran TBC tinggi di Indonesia sangat merugikan. Itu mengurangi produktivitas masyarakat dan menambah beban ekonomi. Terutama di daerah padat seperti Kalianyar, Jakarta, dengan sejumlah wilayah melebihi 1.000 orang per hektare.4
Sanitasi buruk dari pemukiman kumuh di estimasikan menyebabkan kerugian besar. Itu termasuk 50 triliun Rupiah kerugian nasional dan 88% kematian anak karena penyakit preventable sepeti diare.4
Gejala klinis TB termasuk demam, batuk atau batuk darah, dan sesak napas.5 Orang bisa merasa tidak lapar dan kehilangan berat badan.5 Tuberkulosis juga bisa mempengaruhi kulit, usus, dan bahkan tulang.5
TBC menyebar lewat udara dan biasanya menyerang paru-paru.5 Pasien akan mengalami batuk kronis, sesak napas, dan riwayat kontak dengan TBC.6
Apabila tidak ditangani, TB bisa menyebabkan komplikasi serius.5 Misalnya efusi pleura (cairan di paru-paru) atau sumbatan jalan napas.7 TBC mungkin juga merusak organ lain termasuk tulang, sendi, dan sistem saraf.7
Pengobatan TBC yang baik harus mencakup beberapa hal penting. Ini termasuk menggunakan minimal 4 macam Obat Anti Tuberkulosis (OAT). Tetapkan dosis yang sesuai serta jadwal minum obat yang rutin. Pengobatan ini membutuhkan waktu sekitar 6 bulan. Hal ini dilakukan untuk menghindari resistensi obat.
Isnosiazid, rifampisin, pirazinamid, etambutol, dan streptomisin adalah obat-obatan yang terlibat. Mereka sangat efektif dalam mengobati penderita TBC.
Obat OAT terkadang menyebabkan efek samping. Ini dapat berupa masalah pada pencernaan seperti mual, muntah, dan hilangnya nafsu makan. Tapi ada juga efek samping seperti ruam kulit, gangguan pendengaran, dan masalah pada hati dan ginjal.
Pengobatan TBC butuh waktu lama dan punya efek samping. Ini sering membuat pasien lelah dan ingin berhenti berobat.8 Adanya pandemi membuat sistem kesehatan kesulitan, seperti pendapatan yang menurun dan obat yang mahal. Ini menyebabkan orang sulit mendapatkan perawatan kesehatan, yang membuat target keberlangsungan hidup global sulit dicapai.9 Untuk mencapai tujuan menghilangkan penyakit menular, teknik seperti akupresur bisa membantu pengobatan TBC. Itu mungkin bisa mengurangi kesulitan pasien untuk terus berobat.9
Menurut WHO, Indonesia berada di peringkat ketiga atas kasus TBC di dunia pada tahun 2019. Ada 845 ribu orang terkena TBC.9 Di sana, sekitar 24 ribu kasus punya resistensi obat.9 Sedangkan, baru sekitar 69% kasus yang ditemukan bisa diobati.9 Dari total 98 ribu orang yang mati karena TBC, itu termasuk 9 ribu anak-anak.9 COVID-19 membuat masalah TBC terlupakan. Fokus masyarakat beralih, dan penanganan TBC jadi terpengaruh sekitar 4 atau 5 tahun.9 Banyak pasien TBC kesulitan berobat karena rumah sakit mereka fokus ke COVID-19. Mereka juga takut tertular virus itu saat berobat.9
Indonesia sekarang di peringkat kedua dunia soal kasus TB, setelah India. Hampir 1 juta kasus diperkirakan ada. Dari tahun 2022, lebih dari 75% kasus TB ditemukan, itu lebih dari 720.000 kasus.8 Untuk TB yang resisten obat, ada sekitar 28.000 kasus baru tiap tahun di Indonesia. Namun, hanya separuhnya yang ditemukan.8 Dari yang ditemukan, baru 6.000 yang bisa diobati. Hanya 3.000 yang benar-benar selesai pengobatan.8 Setiap tahun, kasus baru TB RO primer meningkat sebanyak 2% atau 3% di Indonesia.8 RSUP Persahabatan adalah pusat utama untuk pengobatan penyakit paru di Indonesia.8
Akupunktur dianggap dapat menunjang pengobatan TBC secara konvensional. Ilmuan telah mempelajari efek positif akupunktur pada berbagai kondisi termasuk TBC.1
Pada 2018, Indonesia mencatat 845.000 kasus TBC dengan 98.000 kematian dalam setahun.1 Pengobatan berlangsung 6 bulan untuk mencegah resistensi obat.1 Obat Anti Tuberkulosis (OAT) meliputi isoniazid, rifampisin, pirazinamid, etambutol, dan streptomisin.1 Namun, pengobatan sering mengakibatkan efek samping salah satunya gangguan pencernaan.1 Hal ini membuat beberapa pasien berhenti berobat.1
WHO membagi 4 jenis penyakit yang dapat diterapi akupunktur pada 2002.2 Ini termasuk pengendalian nyeri, efek samping radioterapi/kemoterapi, hingga infertilitas.2 Akupunktur mempengaruhi neurotransmitter dan hormon dalam kasus penyakit saraf dan fungsional.2
| Manfaat Akupunktur untuk Pasien TBC |
|---|
| Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh |
| Mengurangi Gejala TBC |
| Menurunkan Efek Samping Pengobatan OAT |
Akupunktur bekerja dengan merangsang sistem saraf dan hormon, serta sistem imun. Ini mempengaruhi pelepasan neurotransmitter dan sitokin10. Dengan cara ini, akupunktur bisa memperkuat kekebalan tubuh orang yang menderita TBC.
Metode ini juga mampu meredakan gejala TBC seperti batuk, demam, dan kesulitan bernapas. Selain itu, bisa mengurangi efek samping obat OAT, termasuk masalah pencernaan dan kerusakan organ10.
Akupunktur meningkatkan perlindungan tubuh dengan memperkuat sel natural killer (NK cell). Ini membantu melawan pertumbuhan tumor10. Akupunktur telah berkembang dan kini bisa membantu berbagai masalah kesehatan, termasuk TBC.
Akupunktur membantu dalam pengelolaan nyeri, bahkan pada kasus nyeri kanker2. Dengan menstimulasi titik-titik tertentu, gejala TBC seperti batuk, demam, dan sesak bisa berkurang10.
Dalam kasus pengobatan kanker, akupunktur bisa mengurangi mual, muntah, kelelahan, rontok rambut, dan masalah pencernaan10. Sebagai terapi tambahan, akupunktur membantu mengurangi efek samping dari obat OAT pada pasien TBC10.
Akupuntur medik fokus pada titik khusus untuk mempengaruhi area-area penting tubuh. Ini mencakup saraf, hormon, dan sistem imun.11 Perangsangan titik-titik khusus ini memberi efek baik pada pasien TBC.
Perangsangan titik-titik akupunktur khusus berdampak pada sistem saraf, hormon, dan imun. Efeknya dapat membantu pasien TBC merasa lebih baik.11
Akupunktur membantu mengatur sistem saraf dan hormon dalam tubuh. Ini membantu meredakan gejala TBC dan meningkatkan kesehatan secara umum.11
Akupunktur bisa jadi bantuan tambahan saat mengobati TBC bersama obat-obatan TBC. Ini karena terapi akupunktur plus obat-obatan TBC bisa menghasilkan hasil terbaik saat mengatasi TBC.12 Akupunktur juga membantu agar pasien rajin minum obat TBC dalam waktu yang lama.12
Kombinasi akupunktur dan obat-obatan TBC ini mencakup semua aspek kesehatan pasien. Akupunktur membantu mengurangi gejala, meningkatkan daya tahan tubuh, dan menyembuhkan secara keseluruhan. Sedangkan obat-obatan TBC sangat penting untuk menghentikan pertumbuhan bakteri Mycobacterium tuberculosis.
Pasien TBC sering kali berhenti minum obat karena pengobatan yang lama. Acupunktur dapat membuat pasien lebih patuh dengan cara meredakan efek samping, membaikkan gejala, dan meningkatkan motivasi. Tujuannya agar pasien terus minum obat sampai sembuh total.12 Untuk hasil pengobatan terbaik, penting bagi dokter umum, dokter akupunktur, dan pasien untuk bekerja sama.
Akupunktur untuk pasien TBC dilakukan oleh dokter ahli.11 Ini merupakan cabang baru yang berkembang pada 1980-an.2
Sebelum akupunktur, pasien akan dianamnesis dan diperiksa.11 Diagnosa dan rencana terapi akan dibuat.2 Bersamaan itu, berkonsultasilah dengan dokter untuk memastikan metode ini aman.
Tahap pertama adalah menyesuaikan posisi pasien. Kemudian, area kulit akan didisinfeksi.11 Penusukan jarum halus di titik akupunktur dilakukan. Terapi ini bisa dilengkapi dengan Stimulasi termal atau listrik jika diperlukan.
Setelah 20-30 menit, jarum akan dicabut.11 Perdarahan mungkin terjadi, ini adalah efek samping yang wajar.11
Akupunktur adalah metode pengobatan yang aman. Namun, hasilnya sangat tergantung pada keahlian pelaksana. Terutama jika dilakukan oleh dokter spesialis akupunktur medik.13 Jika dipraktikkan oleh yang tidak terlatih, risiko bahaya bisa meningkat. Bahaya seperti infeksi, perdarahan yang serius, serta cedera organ dan sistem saraf pusat bisa terjadi.13
Bagaimanapun, akupunktur bukan tanpa risiko. Pemeriksaan dan pemilihan praktisi yang tepat sangat penting. Praktisi yang baik akan meminimalkan kemungkinan efek samping. Efek samping misalnya infeksi, perdarahan, hingga cedera pada organ dan sistem saraf pun dapat terjadi.13
Maka dari itu, memilih praktisi akupunktur yang berkualitas amatlah vital. Pilihlah yang berpengalaman untuk memastikan keamanan pasien, terutama pasien TBC. Praktisi terlatih akan menjaga agar prosedur berjalan lancar, serta mengurangi risiko dan efek samping.13
Sejumlah penelitian menunjukkan akupunktur efektif mengobati tuberkulosis (TBC). Sebuah studi kasus menemukan pasien TBC, yang mendapat terapi akupunktur, merasa lebih baik. Mereka juga mengalami kenaikan kekebalan tubuh serta proses penyembuhan yang lebih cepat.14
Studi kasus ini melibatkan 42 orang dengan TBC. Mereka dibagi ke kelompok intervensi dan kontrol. Hasil menunjukkan perbedaan yang besar setelah terapi akupunktur dilakukan untuk mengurangi mual dan muntah (p = 0.000).
Terapi akupunktur fokus pada titik P 6 dan St 36 selama 15 menit. Tujuannya adalah mengurangi keluhan mual dan muntah pada pasien TBC paru.11
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengakui akupunktur sebagai terapi yang berguna. Ini termasuk untuk penyakit paru-paru seperti TBC, berdasarkan bukti ilmiah.14
Di Indonesia, TBC merupakan masalah kesehatan serius. Negara ini adalah yang ketiga terbanyak kasus TBC di dunia setelah India dan China. Di Indonesia, dilaporkan 446.732 kasus TBC, dengan estimasi lebih dari 842.000 kasus.14
Angka kematian harian akibat TBC di Indonesia mencapai 301 orang. Ini menunjukkan pentingnya upaya pencegahan dan pengobatan terhadap TBC.
Akupunktur bisa jadi bagian penting dalam pengobatan TBC. Ini bisa membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh dan mengurangi gejala TBC. Serta, akupunktur juga dapat mengurangi efek samping dari pengobatan obat anti TBC11.
Penggunaan akupunktur bersama pengobatan TBC konvensional bisa membuat penanganan TBC lebih baik. Ini karena akupunktur tidak hanya fokus pada gejala tapi juga sistem kekebalan tubuh. Hasilnya, pasien bisa lebih patuh pada pengobatan dan merasa lebih baik.
Akupunktur terbukti efektif untuk berbagai penyakit paru-paru, termasuk TBC. Namun, penting untuk memilih praktisi akupunktur yang berpengalaman dan berkualitas. Ini agar pasien mendapatkan terapi yang aman dan efektif11.
Menggunakan akupunktur sebagai terapi tambahan dalam pengobatan TBC sangat bermanfaat. Ini bisa membantu pasien merasa lebih baik. Sehingga, mereka mungkin lebih patuh pada pengobatan dan hidup dengan kualitas yang lebih baik.
akupunktur untuk TBC – Akupunktur medik adalah penggabungan teknik akupunktur dengan ilmu medis. Ini termasuk anatomi, biologi, fisiologi, dan sebagainya. Selain jarum, teknik ini juga mencakup penggunaan panas, listrik, laser, suara, hingga benang.
akupunktur untuk TBC – Akupunktur bekerja dengan merangsang sistem saraf dan hormon. Ini mempengaruhi sistem kekebalan tubuh. Sehingga, dapat meningkatkan kekebalan tubuh dan mengurangi gejala TBC.
akupunktur untuk TBC – Akupunktur adalah tambahan untuk pengobatan TBC konvensional secara keseluruhan. Penggunaan OAT bersama terapi akupunktur dapat hasilkan penanganan yang lebih baik.
Ini juga membantu pasien lebih patuh pada pengobatan mereka. Pengobatan TBC biasanya memerlukan waktu lama.
akupunktur untuk TBC – Indonesia memiliki angka tiga terbanyak untuk TBC di dunia. Pada 2018, hampir 845.000 orang terkena TBC di Indonesia.
Angka kematian mencapai hampir 98.000 kasus setiap tahunnya.
akupunktur untuk TBC – TBC mengurangi produktivitas dan menyebabkan beban ekonomi tinggi. Ini juga meningkatkan risiko penularan, terutama pada kelompok rentan.
akupunktur untuk TBC – Gejala klinis TBC di paru-paru antara lain demam dan batuk darah. Gejala lainnya termasuk sesak napas, hilangnya nafsu makan, dan penurunan berat badan.
akupunktur untuk TBC – TBC yang tidak diobati dapat menyebabkan efusi pleura dan sumbatan jalan napas. Juga, dapat timbul sindrom gagal napas, TBC milier, dan kavitas TBC.
akupunktur untuk TBC – Pengobatan TBC menggunakan OAT harus mematuhi beberapa hal. Ini termasuk menggunakan minimal empat obat dan dosis yang tepat. Pengobatan biasanya berlangsung selama enam bulan. Tujuannya adalah mencegah resistensi obat.
akupunktur untuk TBC – Jenis obat yang digunakan OAT termasuk isoniazid dan rifampisin. Juga ada pirazinamid, etambutol, dan streptomisin.
akupunktur untuk TBC – Efek samping OAT meliputi gangguan pencernaan dan kehilangan nafsu makan. Gejala lainnya termasuk ruam, gangguan pendengaran dan penglihatan. Juga gangguan fungsi hati dan ginjal.
akupunktur untuk TBC – Jangka waktu pengobatan yang lama dan efek samping sering membuat pasien berhenti. Faktor lain termasuk pandemi dan masalah keuangan. Obat yang mahal dan layanan kesehatan yang sulit dijangkau juga ikut memengaruhi.
akupunktur untuk TBC – Akupunktur bekerja mempengaruhi saraf, endokrin, dan sistem kekebalan tubuh langsung. Ini membantu tingkatkan kekebalan pasien TBC.
akupunktur untuk TBC – Terapi akupunktur dapat kurangi gejala TBC, termasuk batuk dan demam. Ini dilakukan melalui sistem regulasi saraf dan hormonal.
akupunktur untuk TBC – Akupunktur mampu kurangi efek samping OAT seperti gangguan pencernaan. Caranya lewat pengaruh pada saraf, endokrin, dan sistem kekebalan.
akupunktur untuk TBC – Melalui stimulasi titik akupunktur, sistem saraf, endokrin, dan imun aktif dibedakan. Ini memberikan efek terapeutik pada TBC.
akupunktur untuk TBC – Regulasi akupunktur terhadap sistem saraf dan hormonal membantu kurangi gejala TBC. Ini juga meningkatkan kesehatan pasien.
akupunktur untuk TBC – Terapi akupunktur bersama OAT memberikan penanganan holistik untuk TBC. Kombinasi ini meningkatkan efektivitas perawatan secara keseluruhan.
akupunktur untuk TBC – Melalui pendekatan holistiknya, akupunktur membantu pasien lebih patuh pada perawatan TBC.
akupunktur untuk TBC – Proses dimulai pilih posisi yang nyaman untuk pasien. Lalu, daerah disinfeksi, dan jarum ditempatkan di titik tertentu. Perangsangan tambahan mungkin dilakukan dengan cara seperti penggunaan panas atau listrik.
akupunktur untuk TBC – Akupunktur jika dilakukan dengan benar, sangat aman dan jarang berisiko. Praktisi yang berpengetahuan membuatnya aman, khususnya dokter spesialis akupunktur medik. Namun, kesalahan dalam aplikasi bisa berpotensi merugikan. Ini termasuk infeksi dan bahaya lain.
akupunktur untuk TBC – Pilih praktisi berpengalaman untuk pastikan akupunktur dilakukan dengan aman dan efektif bagi pasien TBC.
akupunktur untuk TBC – Studi mendukung efektivitas akupunktur menyebutkan perbaikan gejala dan sistem kekebalan pasien TBC. WHO secara khusus mengakui akupunktur efektif untuk berbagai penyakit paru, termasuk TBC.